RIWAYAT KERAJAAN KUTARINGIN
Kamis, 29 Juli 2021
Selasa, 27 Juli 2021
raja2 Kotawaringin. Sultan ketiga (III) Kerajaan Kotawaringin 1643-1670 Penembahan Anum yg merupakan putra dari Sultan II Masdipati, Sultan III ini beristrikan anak dari Tengku Achmad Barnabas dari Kerajaan Tengganu istrinya yg lain Putri Sultan Tahlillullah dari kerajaan Banjarmasin namanya Putri Nurmalasari ( bersambung)
Raja yg pernah Berkuasa di Kerajaan KotawaringinSedikit Info sejarah Kerajaan KotawaringinSultan I 1603-1618 Pangeran Adipati antakusuma yg dijadikan nama PT di Pangkalan bun. Beliau Punya istri namanya Dayang Ruai ( Putri Sari Banun) isteri yg lain bernama Putri Bakorong anak dari Jebdral laut armada Bogota Portugal ( bersambung)
Gusti Doemai Komandan MN 1001Surat Kuasa untuk Kaft Gusti Doemai Anas sebagai Komandan MN 1001 Wilayah Kalimantan ( borneo), dalam rangka untuk merebut dan mempertahankan kemerdedekaan RI dan mengusir Penjajah, ketika itu alm sebelum ditarik jadi AURI, yg kemudian ditarik menjadi anggota AURI sebagai pelatih terjun Payung utk PGT/KOPASGAT/ PAKHAS di Yokyakarta dan di Margahayu Jabar kemudian beliau ditugaskan membuka Lanud AURI yg sekarang dikenal dgn lanud Iskandar Pangkalan bun, dan beliau sempat menjadi Komandan Auri.Alm Gusti Dumai juga selalu diikut sertakan dalam operasi militer, diantaranya pembebasan irian jaya, oleh karena menerima bintang tanda jasa antara lain bintang Nararia, beliau sebenarnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi beliau beliau ber amanat waktu sakitnya, untuk dimakamkan di dekat makam kakeknya Pangeran Ratu Imanudin Sultan Kotawaringin yg ke IX yg kebetulan dekat makam orang tua saya, dan alm bersaudara dgn orang tua saya. Jas merah jangan lupa sejarah
Selasa, 24 Mei 2016
RIWAYAT KERAJAAN KUTARINGIN ( Bagian 2 )
Seperti yang diutarakan penulis Pada Bagian 1 Riwayat Kerajaan Kutaringin para Sultan / Raja dalam perkawinan nya tidak terelepas dari pertimbangan-pertimbangan asal calon Isteri suami dalam rangka memupuk persaudaraan dan kekuatan dukungan melaksaakan Tugas dan tanggung jawab kerajaan/kesulatanan.
Raja Kutaringin ke-2 Pangeran Mas Dipati Perkawinannya dengan Galuh Hasanah Bin Pangeran Adipati Tapa Sana Mempunyai anak yang namanya Pangeran Penembahan Anum yang menjadi Sultan Kutaringin yang ke-3, Pangeran Penembahan anum ini mempersunting isteri anak dari Sultan Tamdjidillah rai kerajaan Banjar yang namanya Putri Nurmalasari, yang merupakan perkawinan antara keluarga dalam rangka mempererat hubngan kekerabatan antara kerajaaan Banjar dan Kerajaan kutaringin yang s memang ada hubngan yang erat antara kedua kerajaan tersebut.
Perkawinan Sultan III kerajaan Kutaringin Panembahan Anum dengan Putri Nurmalasari dari Kerajaan Banjar ini melahirkan Pangeran Prabu sebagai Sultan kerajaan Kutaringin yang ke-4 disamping Pangeran Prabu perkawinan anak sultan yang ke-3 adalah Rt. Anum.
Isteri dari Sultan Kutaringin yg ke-3 yang lain adalah Putri Campa Binti Tenggku Barnabas dari Krajaan Trengganu.
Sementara Isteri dari Sultan Kutaringin yang ke-4 Pangeran prabu beristri Putri Jamantan Binti Patih Mas Matjan dari Tanjung Beingin ( kini masuk Kabupaten Lamandau ) danisteri paduka Raja yang ke-4 ini juga yaitu Putri Kuncup Binti Patih Karang Batu Pagatan ( kini masuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur ).
Terlihat dari Perkawinan memperkokoh kerajaan dan juga wilayah pemerintahan disamping juga untuk mempererat hubungan kekerabatan. Perkawinan Sultan ke-4 Kutaringin dengan Putri Djemantan binti Patih Matjan dari Tanjung Beringin lamandau ini melahirkan anak namanya : 1. Pangeran Tjakra, 2. Pangeran Dipati Tuha yang kemudian Sultan ke-V kerajaan Kutaringin, 3. Pangeran Kerta.
Pangeran Dipati Tuha sebagai sultan ke-V kerajaan kutaringin ini ketemu jodoh atau kawin dengan Ratu mangkurat. Ratu Anum dan Pangeran Purbaya bin Tamdjidillah kerajaan Banjar ( kawin antara saudara sepupu ) saudara dari Ratu Mangkurat ini yaitu P. Pugar, Pangeran ratu, Pangean Tumenggung. Terlihat dari perkawinan Keluarga besar dari Pagatan dan keluarga besar dari Lamndau menjadi satu dalam kerajaan Kotaringin sehingga semangat kekeluargaan antara wilayah dimaksud saat itu terbina dengan baik ) ( bersambung )
TERBENTUKNYA KERAJAAN KUTARINGIN SEBAGAI WILAYAH KERAJAAN
RIWAYAT KERAJAAN KOTAWARINGIN
Sekitar awal abad ke-16 Kerajaan Banjar yang tadinya merupakan Kerajaan Hindu menjadi Kerajaan Islam dengan dengan rajanya disebut Sultan. Sultan I Kerajaan Banjar yaitu Sultan suriansyah ( Pangeran Samudra yang memerintah tahun 1595 - 1620. Kemudian disusul Sultan Rahmatillah sebagai Raja Banjar yang ke-2 taahun 1620-1642, setelah itu kerajaan Banjar dipimpin seorang Raja bernama Sultan HIdayatullah tahun 1642 - 1658 sebagai raja Banjar yang ke-3 dan kemudian sebagai Raja Banjar yang ke-IV adalah Sultan Musta'anubillah tahun ( 1658 ) dengan Gelar Penembahan Batuah/Kayu Tangi. Sultan Musta'nubillah mempunyai 5 orang anak yaitu : 1. Pangeran Inayatullah menjadi Raja Banjar yang ke-5, 2. Pangeran Adpati Anum, 3. Pangeran Antasari 4.Pangeran Adipati Antakusuma 5. Putri Ratoe ayu.
Dimulai dari Raja Banjar yang ke-4 inilah ada gagasan untuk mendapatkan daerah baru yang nantinya akan dijadikan sebuah kerajaan. Pemikiran ini di latari belakangi agar diantara dua anaknya yang sama-sama mempunyai potensi untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja tidak terjadi perselisihan, karena sebagai Sultan/Rja Pangeran Musta'inubillah tidak ingin anaknya menjadi bermusuhan hanya karena merebutkan kursi atau kedudukan raja. Suatu ketika deinatara anak-anaknya yang mempunyai potensi jadi raja atau sultan di ajaknya berdiskusi, anak itu yaitu Pangeran Inayatullah dan Pangeran Adipati antakusuma. Kedua anaknya tentu mau mendengarkan apa yang dibicarakan orang tua nya yang juga sebagai Raja. Kemudian setelah lama berdiskusi disepakati bahwa untuk mendapatkan wilayah Kerajaan Baru dan yang tentunya pantas dan cocok dilihat dari berbagai macam pertimbangan diserahkan kepada Pangeran Adipati Antakusuma. Sesuai dengan titah ayahnya selaku raja Pangeran Adipati Antakusuma berlayarlah dengan Perahu Layarnya yang tentu saja diikuti oleh para pengawalnya. Dalamn Perjalanaan dari Banjar Masin tentu banyak wilayah yang disinggahi dan yang di lalui antara lain wilayah yang kini Kuala Pembuang, daerah hulu sungai Arut di daerah sungai Arut inilah Pangeran Adpati Antakusuma membuat perjanjian Damai dengan penduduk setempat ( mama arut ) bahwa bila nantinya Pangeran Adipati Antakusuma sudah mendapatkan daerah yang cocok dan tepat dijadikan ibukota kerajaan pihak mama arut selaku penduduk yang sudah ada memberikan dukungan dan mereka dianggap sebagai saudara, bukti perjanjian itu masih ada di kecamatan Arut utara hinggga kini. Dalam perjanan rombongan Pangeran Adipati Antakusuma akhir mendapatkan tempat yang cocok yaitu di Tanjung Batu yang kemudian disebut Kotaringin. Di kotaringin inilah kemudian dibangun pusat Pemerintahan dan termasuk dibangun tempat beribadah umat islam yang pertama yang kemudian di beri nama masjid Kia Gede
Pangeran Adipati Antakusuma setelah menjadi Sultan I kerajaan Kotaringin tahun 1603-1618 memperisteri Anak seorang Jendral Laut Portugis yang diberi nama Putri Bakorong Isteri yang lain bernama Dayang Ruai bergelar Putri Saribanun anak dari Demung Silam Kutaringin yang bergelar Kiai Gede.
Dari Perkawinan Pangeran Adpati Antakusuma dengn Putri Bakorong memperoleh keturunan bernama Pangeran Mas Dipati yang kemudian menjadi Raja II Kerajaan Kotaringin dari th 1618-1643 Pangeran Mas Dipati ini kawin dengan Putri Galuh Hasanah Binti Pangeran Adipati Tapasana.
Isteri Raja Kotaringin yang ke-II Pangeran Dipati yang lain bernama Putri Kancip yang merupakan Cucu Patih Batang Tapin Bini ( kini masuk wilayah Kabupaten lamandau ), Pangeran Adpati antakusuma perkawinan nya dengan Putri Bakorong juga dapat anak Perempuan bernama Putri Gelang ( Rt. Kutaringin ) yasng bersuami Raden Sari Dewa Binti Ratu Bagus Raja Sukadana beranak Bujut Kesduma Matan. Perkawinan Pangeran Adipati Antakusuma Dengan Dayang Ruai memperoleh anak 4 orang yaitu 1. Putri Lanting yang kemudian bersuamikan Sultan Saidullah ( sepupu sekali ) yang mempunyai anak Sultan Tahlillulah Kerajaan Banjar, 2. Puitri Kesduma sari, 3. Pangeran Tjakra Arum, 4.m Pangeran Buana.
( bersambung ).
Dimulai dari Raja Banjar yang ke-4 inilah ada gagasan untuk mendapatkan daerah baru yang nantinya akan dijadikan sebuah kerajaan. Pemikiran ini di latari belakangi agar diantara dua anaknya yang sama-sama mempunyai potensi untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja tidak terjadi perselisihan, karena sebagai Sultan/Rja Pangeran Musta'inubillah tidak ingin anaknya menjadi bermusuhan hanya karena merebutkan kursi atau kedudukan raja. Suatu ketika deinatara anak-anaknya yang mempunyai potensi jadi raja atau sultan di ajaknya berdiskusi, anak itu yaitu Pangeran Inayatullah dan Pangeran Adipati antakusuma. Kedua anaknya tentu mau mendengarkan apa yang dibicarakan orang tua nya yang juga sebagai Raja. Kemudian setelah lama berdiskusi disepakati bahwa untuk mendapatkan wilayah Kerajaan Baru dan yang tentunya pantas dan cocok dilihat dari berbagai macam pertimbangan diserahkan kepada Pangeran Adipati Antakusuma. Sesuai dengan titah ayahnya selaku raja Pangeran Adipati Antakusuma berlayarlah dengan Perahu Layarnya yang tentu saja diikuti oleh para pengawalnya. Dalamn Perjalanaan dari Banjar Masin tentu banyak wilayah yang disinggahi dan yang di lalui antara lain wilayah yang kini Kuala Pembuang, daerah hulu sungai Arut di daerah sungai Arut inilah Pangeran Adpati Antakusuma membuat perjanjian Damai dengan penduduk setempat ( mama arut ) bahwa bila nantinya Pangeran Adipati Antakusuma sudah mendapatkan daerah yang cocok dan tepat dijadikan ibukota kerajaan pihak mama arut selaku penduduk yang sudah ada memberikan dukungan dan mereka dianggap sebagai saudara, bukti perjanjian itu masih ada di kecamatan Arut utara hinggga kini. Dalam perjanan rombongan Pangeran Adipati Antakusuma akhir mendapatkan tempat yang cocok yaitu di Tanjung Batu yang kemudian disebut Kotaringin. Di kotaringin inilah kemudian dibangun pusat Pemerintahan dan termasuk dibangun tempat beribadah umat islam yang pertama yang kemudian di beri nama masjid Kia Gede
Pangeran Adipati Antakusuma setelah menjadi Sultan I kerajaan Kotaringin tahun 1603-1618 memperisteri Anak seorang Jendral Laut Portugis yang diberi nama Putri Bakorong Isteri yang lain bernama Dayang Ruai bergelar Putri Saribanun anak dari Demung Silam Kutaringin yang bergelar Kiai Gede.
Dari Perkawinan Pangeran Adpati Antakusuma dengn Putri Bakorong memperoleh keturunan bernama Pangeran Mas Dipati yang kemudian menjadi Raja II Kerajaan Kotaringin dari th 1618-1643 Pangeran Mas Dipati ini kawin dengan Putri Galuh Hasanah Binti Pangeran Adipati Tapasana.
Isteri Raja Kotaringin yang ke-II Pangeran Dipati yang lain bernama Putri Kancip yang merupakan Cucu Patih Batang Tapin Bini ( kini masuk wilayah Kabupaten lamandau ), Pangeran Adpati antakusuma perkawinan nya dengan Putri Bakorong juga dapat anak Perempuan bernama Putri Gelang ( Rt. Kutaringin ) yasng bersuami Raden Sari Dewa Binti Ratu Bagus Raja Sukadana beranak Bujut Kesduma Matan. Perkawinan Pangeran Adipati Antakusuma Dengan Dayang Ruai memperoleh anak 4 orang yaitu 1. Putri Lanting yang kemudian bersuamikan Sultan Saidullah ( sepupu sekali ) yang mempunyai anak Sultan Tahlillulah Kerajaan Banjar, 2. Puitri Kesduma sari, 3. Pangeran Tjakra Arum, 4.m Pangeran Buana.
( bersambung ).
Langganan:
Komentar (Atom)


